Memilih Usaha Makanan Sehat Memang Butuh Niat Kuat


Memang, memposisikan diri atau memilih usaha sebagai makanan sehat agak sulit. Mengapa sulit? Tentunya, bila mengambil teori kedokteran, tidak semua makanan itu menyehatkan untuk orang tertentu. Ada makanan yang menyehatkan dan ada makanan yang tidak menyehatkan, bergantung kondisi seseorang. Kesulitan ini tentu bila membuka usaha berdasarkan teori kedokteran. Lalu mengambil teori yang bagaimana? Teori kesehatan lewat Depkes atau PPOM tentu bisa menjadi solusi mempermudah. Tetapi, kemudahan ini bukan jalan untuk produksi kelas rumahan. Perlu ada keseriusan dalam membangun usaha bila mau menstandarkan makanan sehat sesuai Depkes apalagi PBOM. Kalau kita memposisikan diri sebagai ahli kesehatan yang akan menentukan kualitas kesehatan, tentunya, tidak menjamin penentuan itu benar. Tetapi, banyak juga pengusaha yang mengklaim sudah memilih jalan usaha makanan sehat.


Mengapa memilih usaha makanan sehat membutuhkan niat kuat? Begini alasannya.

Harga Jual Harus Sebanding Dengan Kesusahan Menjaga Kesehatan

Apakah benar produk usaha makanan sehat berharga mahal dikarenakan berbanding dengan kesusahannya menjaga kesehatan. Sebagai misal, anda memuka usaha pecel. Bagaimana cara membuat sambal yang menyehatkan? Tentunya, anda akan memilih cabai yang masih segar. Cabai segar jauh lebih menyehatkan. Biasanya, harga jual pun agak mahal dari sambal yang sudah agak bosok. Kalau cabai sudah agak bosok, biasanya identik dengan tidak sehat. Begitu juga dalam pengolahan, tidak boleh menggunakan air yang belum dimasak. Dalam mengurusi sayuran sehat, tentunya, akan mengalami pemasakan bukan perendaman di air panas. Intinya, kondisi menjaga produk sehat seperti ini ada biaya tambahannya sehingga harga jual jauh lebih mahal.

Harus Menjadi Ahli Kesehatan

Bagaimana bisa memilih usaha makanan sehat bila anda sendiri tidak memahami kondisi sebenarnya makanan sehat. Tentunya, pemilihan ini sia-sia saja. Bila anda pengusaha pecel, bagaimana cara membersihkan sayurannya. Apakah anda tahu bahwa pencelupan sayur itu menyehatkan atau membawa penyakit? Kalau misalnya sayur di semprot memakan obat-obatan pertanian, lalu anda membersihkan kotoran sayuran dengan cara mencelup, bisa jadi bekas obat-obatannya masih menempel karena sudah bercampur dengan air. Ini salah satu contoh, memilih usaha makanan sehat tidak dibarengi pengetahuan kesehatan justru tidak berbuah menjadi usaha makanan yang sehat. Jadi, ketika memilih usaha makanan dengan cara menyehatkan, dibarengi juga memperdalam informasi kesehatan mengenai usahanya.

Mengandalkan Pihak Kesehatan Yang Mengatur Produk

Siapa sih yang tidak malas bila berurusan dengan pihak ketiga yang menambah beban biaya? Di saat kita menempuh atau memilih jalur usaha yang menyehatkan, seharusnya tidak perlu mengandalkan tim kesehatan, apalagi kerjaannya cuma memeriksa untuk memvonis sehat atau tidak. Kecuali, tim kesehatan ini membimbing seseorang yang belum paham soal produk berstandar kesehatan, ini memang diperlukan. Tetapi, aturan dunia usaha profesional memang harus menempuh jalur pihak ketiga alias tim kesehatan untuk memvonis atau mengambil keputusan tentang status produk kita, sehat atau tidak, sekalipun si pengusaha sudah mengetahui statusnya. Bukan tanpa alasan bisa kita malas-malasan. Tetapi, ada biaya tertentu yang harus dikeluarkan, apalagi biaya ditingkat BPOM.

Jadi, bila ingin berurusan dengan pihak ketiga seperti BPOM, anda harus membangun usaha yang memang bersifat profesional alias memiliki legalitas usaha. Tentunya, membangun usaha yang memiliki surat legalitas atau usaha menengah-keatas memiliki kesulitan sendiri. Kalau tidak mampu, anda tidak bisa atau dianggap sia-sia bila berurusan dengan pihak tim kesehatan hanya untuk mendapatkan nomer registrasi. Kalau tanpa terdaftar ke Depkes atau BPOM, sebagus apapun kemasan produk anda, sepertinya kurang dipercaya bila harus berjualan secara online.

Itulah beberapa alasan mengapa memilih usaha makanan sehat membutuhkan niat yang sehat.

Mencari Stok Sayururan Kangkung Yang Bersih Dari Obat Semprot

Mencari sayuran yang bebas dari obat semprot sepertinya sulit. Penulis pun belum mengetahui pasti, apakah kangkung disemprot pakai obat semprot atau tidak. Yang jelas, di sini dianggap kurang banyak. Anggap saja seperti ini. Maka, pencarian kangkung yang terbebas dari obat kimia memang sebuah niat yang serius karena memang sulit. Kalau pun bisa, harga atau modal untuk pengurusan pemenuhan kangkung pun besar, karena jarak tempuh yang mungkin jauh. Jadi, karena memang sulit, anda harus memilih kangkung yang memang disemprot memakai obat.

Inti utama di sini adalah, pelaku usaha memang harus membersihkan sayuran dengan benar agar bekas semprotan, kalau ada, bisa hilang.

Selalu Memperhatikan Cara Mengatur Tempat Makanan Pecel

Warung pecel Bu Kaji menggunakan piring kayu dan kertas nasi sebagai tempat menghidangkan pecel. Hal ini perlu mendapat pengetahuan dan perhatian agar selalu menjaga kesehatan makanan. Mungkin anda belum mengetahui bahwa menumpukkan piring kayu yang sudah memiliki alas kertas nasi dianggap cara yang salah dalam segi menjaga kesehatan. Mengapa demikian? Alas piring kayu justu sering tidak dicuci di saat ditempatkan di sembarang tempat sekalipun di atas meja. Hal ini bisa mengarah pada potensi makanan yang tidak sehat. Sekalipun anda sudah mengetahui cara penumpukan yang benar untuk piring kayu, yakni pemisahan tumpukan piring kayu dengan kertas nasi, namun hal ini bisa mengalami keteledoran. Jadi, anda perlu mengetahui dan sungguh-sungguh menerapkannya demi menjaga makanan pecel tetap sehat.

Bagaimana bila menggunakan piring? Tentunya ini menjadi masalah berikutnya yakni pada penggunaan air. Pengusaha pecel yang tidak memiliki stok air untuk pencucian berpotensi menghasilkan cucian yang tidak sehat karena pencuciannya tidak bersih. Pencucian bersih apabila air yang digunakan bisa mengalir. Kalau teknik pencuciannya Cuma pencelupan seperti yang dilakukan sebagian penjual, tentu ini bermasalah.

Jangan Memanfaatkan Makanan Yang Sudah Basi Untuk Pencampuran

Ada sebagian pedagang yang melakukan pencampuran bahan makanan, seperti mencampur tahu yang sudah agak basi untuk kepentingan menambahkan stok membuat makanan pepesan botok tahu. Cara ini bukan cara yang mementingkan kesehatan. Apalagi, cara ini justru bisa merugikan penjualan. Tapi, patut diakui, pencampuran bahan basi dengan bahan segar sudah umum dilakukan para penjual, seperti pembuatan saos yang lebih memilih tomat yang sudah layu dengan bahan tomat segar. Sikap pencampuran ini di luar dari sikap menjaga makanan sehat.

Sediakanlah Tempat Sampah Sementara Dengan Baik

Bagaimana seharusnya menemaptkan tempat sampah yang baik dalam segi kesehatan? Tentunya, bila seperti ini, tempat sampah harus ditempatkan di belakang tempat usaha. Banyak pedagang makanan yang menempatkan sampai di depan orang makan dikarenakan gerobaknya berada di depan. Hal ini wajar. Tetapi, alangkah baiknya, ada langkah berikutnya yaitu membuang sampah ke bagian belakang bila sudah penuh. Pembuangan sampah juga tidak boleh sembarangan. Harus mencuci tangan bila sudah selesai.

Perhatikan Cara Pengambilan Makanan

Memang, memilih usaha makanan sehat membutuhkan niat yang kuat. Pasalnya, hal ini berurusan juga dengan kedisiplinan. Salah satu yang sering dilakukan adalah ketidakdisiplinan dalam mengambil makanan. Banyak pedagang yang lebih menggunakan tangan padahal tangan yang dibuat mengambil makanan sudah menembel ke hal yang lain seperti serbet kotor dan lainnya. Memang, kegiatan ini bukan faktor kedisimpilan juga, tetapi juga memang sengaja untuk lebih memiih tidak memaksimalkan menjaga makanan agar tetap, salah satunya gak memakai kaos tangan atau sendok.


Dunia Tulis-Menulis dan Kesastraan Pesantren Serta Jaringan Teks-teks Aswaja-Keindonesiaan Dari Era Wali Songo Ke Abad 19

Penulis: facebook.com/ahmad.baso.1
Hubungi Via Wa 0812 9383 1266