Resiko Bisnis Kuliner Untuk Warung Pecel Bu Kaji


Bagaimana resiko bisnis kuliner yang lebih memfokuskan pada warung pecel Bu Kaji? Di dalam warung pecel Bu Kaji memang menghadirkan aneka kuliner, baik pecel dan pendampingnya. Tentunya, bisnis makanan atau kuliner seperti ini mengandung resiko. Tidak ada bisnis yang mengandung resiko pada umumnya dan memang seluruhnya. Namun yang pasti, resiko bisnis itu berbeda-beda sekalipun sama-sama menjual kuliner. Lalu bagaimana resiko bisnis kuliner untuk warung Bu Kaji? Resiko warung pecel Bu Kaji tentu berbeda untuk sebagian warung pecel. Atau bisa saja sama saja selagi sama-sama bisnis pecel khas Semarang.

http://ragacatering.blogspot.com/

Sebagai penulis dari Sambal Bu Kaji alias warung pecel Bu Kaji, tentunya ingin menilai sebuah bisnisnya. Sekalipun tidak pasti benar-benar resiko yang sedang dihadapi pengelola warung pecel Bu Kaji, ini bisa dijadikan pelajaran untuk mengantisipasi resiko atau sebagai solusi ketika resiko datang.

Apa saja resiko bisnis kuliner untuk warung pecel Bu Kaji?

1. Masalah Resiko Kebasian Kuliner

Semua bisnis kuliner akan menghadapi resiko kebasian kuliner. Solusinya memang harus memakai bahan pengawet. Tetapi, rata-rata, usaha kuliner alias sejenis dengan usaha warung makan seperti warung pecel Bu Kaji biasanya tidak menggunakan bahan pengawet. Hal ini karena bukan produk kemasan. Lagi pula, pelanggan setiap hari berdatangan. Tetapi, ada dimana kondisi pelanggan tidak sesuai harapan untuk menghabiskan makanan. Bila seperti ini, resiko kebasian kuliner akan datang. Bila basi, bisnis bisa mengapami kerugian alias tidak mendapatkan untuk dihari dimana mendapatkan resiko kebasian.

Untuk mengatasi resiko bisnis kuliner akibat kebasian sebelum laku terjual memang tidak ada kecuali menjadi produk lain yang berharga murah. Tetapi, untuk kasus warung pecel Bu Kaji, tidak bisa dijadikan produk lain untuk mengatasi kebasian. Apakah bisa sayuran kangkung dibuat produk lain? Tentu tidak bisa. bagaimana dengan sambal pecelnya? Tidak bisa juga. Memang, ada sebagian kuliner yang bisa dijadikan produk lain sebagai upaya mengatasi resiko kebasian. Daripada benar-benar rugi, lebih baik dibuat produk lain. Tentunya, pecel dan sambalnya

2. Masalah Resiko Perubahan Rasa atau Permasalahan Mengolah Kuliner

Kejadian umum adalah masalah perubahan rasa. Kalau rasa makanan sudah berubah, ini bisa mengurangi jumlah pelanggan. Karena, ada sebagian pelanggan yang kecewa dengan berubah-ubahnya rasa. Ini menjadi resiko bisnis kuliner tersendiri. Ya, kesuksesan sebuah bisnis kuliner manakala rasa kulinernya bisa terjaga. Kalau resep olahan kulinernya enak, tentunya harus dipertahankan. Kalau tidak bisa dipertahankan, ini menjadi resiko bisnis.

Masalahnya, bagaimana mengatur standar membuat kuliner yang tetap terjaga enaknya? Ini menjadi sulit bila masih berstatus penjual kuliner di warung. Rata-rata penjual tidak serius mengenai keterjagaan rasa. Tetapi, apapun alasannya, menjaga rasa memang harus dilakukan. Cara mengaturnya bisa menentukan bahan-bahan pembuat kuliner sesuai takarannya. Di sini diperlukan ujicoba.

Masalah pecel untuk Bu Kaji, tentu bukan pada pengolahan kulinernya melainkan pada pengolahan bumbu alias sambal. Hal ini pun perlu menjadi perhatian. Untuhnya, pengelola sudah berpengalaman dalam menangani sambal kemasan untuk penjualan. Ketika sambal ini untuk kebutuhan pecel, sudah bisa mempertahankan rasa sambalnya di pecel.

3. Masalah Tidak Mewakili Lidah Orang Banyak

Resiko bisnis kuliner berikutnya adalah tidak mewakili lidah orang banyak. Resiko ini bisa didapatkan untuk produk kreasi terbaru yang belum ada contohnya. Artinya, produk kreasi terbaru ini memang meniru produk lama namun sudah ada pembaruan. Nah, pembaruan ini membuat anda belum mengetahui lidah konsumen atas bisnis kuliner anda. Memang, ini bukan menjadi resiko yang besar. Hanya saja, banyak orang yang mengabaikan ini. Mereka langsung membuka bisnis kuliner tanpa terlebih dahulu meriset dengan mengandalkan banyak lidah. Ketika produk belum menjamin mewakili banyak lidah di saat pertama kali membuka bisnis, ini bisa membangkrutkan usaha.

Bisa jadi ke depan warung pecel Bu Kaji menghadirkan bakso pecel. Bakso pecel tentunya olahan bakso kuah dengan campuran sambal pecel. Pada pencampuran ini tentu belum menjamin masyarakat Semarang, tempat warung pengelola Sambal Bu Kaji, menyukainya. Hal ini karena masih bersifat baru, belum banyak yang membuka bakso pecel.

4. Masalah Resiko Persaingan Yang Sengit

Definisi kuliner adalah makanan yang akan dikonsumsi untuk harian dan habis dalam waktu singkat. Bila sudah mengkonsumsi kuliner, mereka tidak ingin membeli lagi. Tetapi, mereka bisa berlangganan di hari berikutnya. Sekilas, kondisi seperti ini membuat peluang bisnis kuliner memang potensial. Tetapi, penjual kuliner pun memang banyak. Hal ini bisa merebut konsumen. Banyak penjual yang gulung tikar karena tidak berhasil memikat pembeli. Kalau memang menunggu dalam jangka waktu lama, ini beresiko untuk kondisi makanan yang mudah basi.

Bagaimana dengan pecel untuk warung Bu Kaji? Tentunya, tetap mendapatkan persaingan yang berat mengingat kawasan jawa memang memiliki banyak penjual pecel yang bisa mempersulit penjualan.

5. Para Ibu Rumah Tangga Sudah Memiliki Bekal Memasak

Tidak semua kuliner bisa dijual di tengah-tengah para ibu rumah tangga. Tentunya, usaha kuliner karena memang kebutuhannya untuk konsumsi harian. Makanya, bisa berpotensi tidak laku bila berjualan untuk sekelas usaha rumahan. Kecuali, anda menjual pecel yang dilakukan Sambal Bu Kaji, bisa dilakukan di rumah. Banyak yang memang memiliki pelanggan setia. Tetapi, bila anda membuka usaha kuliner rumahan misalnya untuk menu makanan, mereka tidak akan membeli karena sudah disediakan di rumah. Inilah bagian dari resiko bisnis kuliner.

Tetapi, bagaimana resiko bisnis kuliner untuk warung Ibu Kaji? Resikonya adalah kejenuhan menikmati pecel. Kebanyakan para penjual pecel atau sejenisnya memang mensiasati warungnya dengan berjualan aneka produk, seperti kebutuhan rumah tangga atau produk jajanan. Hal ini untuk mensiasati pemasukan selain dari pemasukan pecel. Bila sudah mengalami kejenuhan, tentu mereka tidak mau menikmati pecel lagi. Makanya, usaha pecel rumahan sebaiknya bukan untuk kebutuhan konsumsi harian melainkan untuk konsumsi cemilan.

Tidak Memiliki Ahli Waris Resep Kuliner Pecel

Pengusaha pecel khususnya warung Bu Kaji memang harus mengajari keturunanya mengolah sambal pecel sampai pecelnya. Di samping untuk tenaga kerja, agar menghemat pengeluaran membiayai orang lain, juga untuk mempersiapkan apabila ke depan si pengelola warung pecel tidak bisa berbuat banyak pengolah usahanya atau meninggal dunia. Resiko usaha sistem manajerial memang seperti ini, tenaga ahlinya tidak bisa tergantikan begitu saja. Ketika usaha pecel sukses, inilah saatnya mempersiapkan usaha untuk masa depan. Karena, ini bisa menjadi resiko bisnis. Banyak bisnis kuliner yang tenggelam, tidak diteruskan karena keturunanya tidak ada yang meneruskan.

Sayuran Gampang Kering dan Tidak Bisa Dihangatkan

Menikmati pecel tentunya paling enak bila masih kondisi hangat atau agak hangat. Mengapa? Hal ini berkaitan dengan kenikmatan dan juga kondisi sayuran. Masalah kenikmatan, bisa saja didapatkan dari sayuran yang sudah dingin, asalkan jangka waktunya tidak lebih dari 5 jam. Tetapi, tetap saja, sayuran yang sudah terkena angin akan mengalami kering yang justru mengurangi kenikmatan. Sayuran yang mengalami kering biasanya kangkung, sekalipun tidak basi.

Kondisi di atas tidak bisa diatasi dengan melakukan penghangatan kembali karena memang kondisi sayur sudah layu dan agak kering.

Untuk mengatasi resiko tentu mudah saja, yakni dengan melakukan pemasakan secara bertahap sesuai pemesanan. Hal ini sudah dilakukan oleh penjual rujak dadakan, makanan yang mirip pecel.